selalu, seperti ini saat aku mengingatmu…
malam & hujan, dengan balutan udara yang cukup dingin ditambah alunan petir yang menggelegar….
pelangi, sapaku sambil ku sodorkan tanganku untuk berjabat denganmu, angin…angin? kataku saat itu seolah tak percaya akan siapa namamu sebenarnya, terlebih siapa kamu yang dengan beraninya menatap mataku dengan tajam & penuh selidik…sial!!
malam & hujan, dengan balutan udara yang cukup dingin ditambah alunan petir yang menggelegar….
makan apa pelangi? sapamu sore itu..ditengah canda dua sahabat kita disamping kiri & kanan…acuh tak acuh aku hanya tersenyum kesal dengan polahmu yang merekam gerak-gerikku dengan ponsel mu & terlebih melihat kepuasan dari pancaran matamu dipenghujung hari, ditepi danau dengan lagi-lagi disambut hujan yang membuat kita semua terpaksa berpindah posisi duduk…ahhhh…hujan
malam & hujan dengan balutan udara yang cukup dingin ditambah alunan petir yang menggelegar….
seketika hidupku dipenuhi oleh angin, angin sepoi yang membuat seluruh hari menjadi sejuk…meski terkadang angin berubah jadi destruktif dengan title puting-beliung….ahhh angin….sore itu, saat senja mulai datang kau dengan ponggahnya berkata hidup itu adalah hitam putih, pilihan bagi manusia diantara hitam atau putih…tapi bagiku hidup bukanlah hanya sekedar warna hitam ataupun putih bagiku hidup terkadang merah, atau biru, atau kuning, atau hijau atau bahkan abu-abu…namun angin berkata dengan egonya sebagai seorang laki-laki…hidup itu harus hitam putih pilih aku akan masuk kemana…celoteh sore itu membuatku tahu…satu bentuk perbedaan antara aku PELANGI & dia ANGIN mulai terbuka….
perbedaan yang seharusnya membuat kita sama-sama kuat harmoni, namun ternyata pelangi ataupun angin tak kenal kompromi….
selalu seperti ini saat aku mengingatmu,
angin seketika berubah menjadi sparing partner bagiku…kita berdebat tentang apapun, semua seolah menjadi besar saat angin atau pelangi berbeda dalam memaknai segala…
bagi angin bumi adalah tempat pemaknaan eksisitensi dan eksisiten artinya kekuasaan, sementara bagi pelangi bumi hanyalah tempat singgah untuk aktualisasi, terlalu banyak rentetan peristiwa antara pelangi & angin…terlalu banyak sampai tak tahan rasanya….
saat itu, hujan & petir berkolaborasi dalam haroni yang selaras…malam…gelap…angin meletakan bata pertamanya membentengi hati diantara kita berdua…..
angin,
dihantara himpitan seluruh perasaan…..benci…
diantara kilatan cahaya petir yang berumam dengan kerasnya,
diantara keponggahan dan kegetiran akan jiwa yang terus menerus berangan….
disitu,
dipojok itu…
berhimpitan dengan warna-warni yang lain…
merindumu….sparing partnerku….